Aku yang memilih langkahku terbang menuju lahan yang lebih rendah dan bukan lebih tinggi adalah bukannya tanpa alasan. Aku memilih mendaratkan kakiku sejenak di sini, di tempat ini, sejenak untuk memahami apa artinya mendaur ulang hidup agar menjadi hidup yang benar-benar hidup.
Aku datang bukan sebagai sang sempurna.
Dan maafkanlah aku bagi buat kalian yang berkecewa atas kenyataan ini atas kekecewaan dari masa laluku, tetapi terima kasihku untuk kalian yang tetap tinggal, karena hanya kawan terbaiklah yang tetap tinggal. Bisa apa aku dalam kondisiku? Coba saja terus berkeluh kesah, sampai nafas pun mendesah-desah, lalu hilang itu asa. Aku tidak bicara pada kalian jika kalian tidak ingin mendengar, tetapi aku berbicara bagi buatku sendiri, yang seorang diri. Buat apa aku berucap panjang lebar kalau semua mati suri? Lebih baik diam lalu menasehati diri, guna tersadari bahwa hidupku adalah sampah yang harus didaur ulang agar menjadi hidup yang benar-benar hidup.
Tetapi ketahuilah betapa sering aku bertukar pikiran dan bukan hanya sekadar membela, tapi juga mengutarakan gugatan dan tuntutan yang patut pertimbangkan demi keeksisan apa yang sudah kita semua buat selama ini. Adalah waktunya kini untuk aku berdiam, merenung sejenak sambil merajut doa untuk masa depan. Sampai waktu tak lagi membuat hatiku menjadi batu, tidak lagi membuat hatiku menjadi bisu. Kelak tibalah waktu bagiku mengenakan mahkota kepemimpinan dengan jiwa besar yang tidak lain adalah hasil daur ulang jiwaku yang nyaris mati sekarang.
Dan aku akan selalu ingat kata-kata ”Kelak jika terjatuh lagilah aku dengan masa lalu traumatismku itu, temukanlah potongan waktu di mana sendu berhasil menjadi merdu”
-Permay, HOME (House Of Rhiema), 20 July 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar